Banner
Banner
Banner
Saatnya Berpaling ke Properti Hijau PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 01 May 2010 16:27

 

 

Maka tak mengherankan, ecoproperty menjadi perhatian utama dalam Kongres Dunia Ke-61 Federasi Real Estat Internasional (FIABCI) di Bali tanggal 24-28 Mei 2010. Kongres yang bertajuk ”Save The World: Green Shoots for Sustainable Real Estate” merupakan titik balik bagi seluruh pemangku kepentingan properti dunia untuk berkontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan yang nyaman secara berkelanjutan.

Tunas-tunas kebangkitan industri properti yang ramah lingkungan mulai berkembang di dunia pada era tahun 1990-an. Kriteria bangunan ramah lingkungan dimulai di Inggris tahun 1993 dan dipopulerkan oleh Amerika Serikat dengan Konsil Bangunan Hijau Amerika Serikat (USGBC) dengan menerbitkan sertifikasi Leadership in Energy and Environmental Design (LEED).

Upaya itu mulai diikuti perusahaan pengembang properti untuk menerapkan kerangka ekologi dalam perencanaan proyek properti. Kecenderungan itu menguat seiring tren pasar properti dunia yang menghendaki hunian ataupun gedung yang nyaman, ”hijau”, hemat energi. Penghematan energi diyakini dalam jangka panjang akan mengurangi eksploitasi terhadap sumber daya alam.

”Cepat atau lambat, properti ramah lingkungan akan menjadi kebutuhan utama konsumen di perkotaan. Industri properti memiliki peran penting dalam menciptakan bangunan yang ramah lingkungan,” ujar Pingki Elka Pangestu, Ketua Panitia Kongres Ke-61 FIABCI.

Properti ramah lingkungan di antaranya tecermin dalam desain bangunan, kemampuan mengurangi eksploitasi sumber daya alam, emisi gas karbon, penghematan air dan listrik, serta penggunaan energi terbarukan.
Dalam tataran ideal, penerapan konsep properti ramah lingkungan dimulai dengan pemilihan material bangunan. Pemakaian bahan bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi hingga kini masih terus dipelajari dengan mengeksplorasi kearifan lokal.

Penghematan energi

Konsep ecoproperty yang kini banyak diaplikasikan di dunia adalah desain bangunan yang efisien dan menunjang penghematan energi. Misalnya, bentuk-bentuk gedung tinggi yang secara aerodinamis efisien, figur bangunan yang stabil terhadap tekanan angin, ataupun pemanfaatan filter untuk menyerap sinar matahari sehingga menghemat lampu dan pendingin ruangan.

Selain itu, operasional bangunan yang mendukung penghematan energi, di antaranya penerapan teknologi daur ulang (recycled), penggunaan kembali (reused), dan reinvestasi terhadap bahan baku yang sudah tidak bisa didaur ulang.

Pengembangan green building di negara-negara maju juga didukung oleh penyusunan kriteria baku properti ramah lingkungan. Di tingkat dunia, sudah terbentuk Konsil Bangunan Hijau Dunia (World Green Building Council/WGBC).

Bagaimana dengan Indonesia? Tren go green belum marak menghinggapi ranah industri properti di Tanah Air. Bahkan, belum ada ketentuan tentang kriteria bangunan ramah lingkungan serta rambu-rambu tata ruang daerah yang menopang pengembangan permukiman dan perkantoran ramah lingkungan.

Minimnya paradigma ecoproperty membuat pengembangan properti ramah lingkungan di Indonesia masih sebatas klaim pengembang. Jikapun sudah mulai, konsep itu cenderung diterjemahkan secara parsial ke fisik bangunan, yakni besaran ruang terbuka hijau, tinggi bangunan, dan garis sempadan.

”Saat ini semakin banyak pembangunan properti dengan konsep hijau dan mendapat respons positif dari masyarakat. Namun, paradigma konsep hijau masih berbeda-beda karena belum ada aturan yang jelas mengenai kriteria properti ramah lingkungan,” ujar Teguh Satria, Ketua Real Estat Indonesia, yang juga Penanggung Jawab Kongres Dunia Ke-61 FIABCI.

Memacu pembangunan
Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah Thaib berpendapat, untuk memacu pembangunan berpaling ke alam (back to nature), kejelasan aturan oleh pemerintah mutlak diperlukan.

Aturan yang menunjang properti ramah lingkungan mencakup tata ruang, standardisasi, pola insentif bagi pengembang proyek yang ramah lingkungan, maupun sanksi terhadap pengembang yang belum memerhatikan konsep pembangunan ramah lingkungan. Pola insentif dan sanksi tersebut sudah banyak diterapkan di negara maju.

Beberapa insentif yang diusulkan berupa keringanan biaya izin mendirikan bangunan (IMB) sebesar 30-50 persen bagi proyek ramah lingkungan. Selain itu, koefisien luas bangunan lebih tinggi sebagai kompensasi perluasan ruang terbuka hijau dan prioritas infrastruktur.

”Dukungan pemerintah diperlukan mengingat pembangunan kota ramah lingkungan merupakan tanggung jawab moral bagi generasi mendatang,” ujar Hieramsyah.

Selangkah lebih maju, Konsil Bangunan Hijau Indonesia (Green Building Council Indonesia/GBCI) berinisiatif menyusun kriteria properti ramah lingkungan. Core Founder GBCI Tiyok Prasetoadi mengemukakan, bulan Juni 2010 akan dilakukan konsensus nasional untuk meminta masukan dari pemangku kepentingan industri properti dan konstruksi serta masyarakat mengenai konsep ramah lingkungan.

Ada enam kriteria yang menjadi acuan properti ramah lingkungan, yakni mencakup tapak bangunan, energi, air bersih dan limbah, material, kualitas udara dalam ruangan, serta pengelolaan untuk pengawasan energi. Ketentuan kriteria itu akan disinergikan dengan aturan pemerintah pusat dan daerah.

”Pelaksanaan properti ramah lingkungan akan disusun dalam peringkat, mulai dari jenjang paling sederhana sampai paling lengkap,” ujar Tiyok. Namun, properti yang ramah lingkungan tidak hanya bersandar pada aturan tata ruang dan teknis operasional, tetapi juga perilaku penghuninya. Mengubah penghuni agar memiliki gaya hidup ramah lingkungan menjadi tantangan terberat.

”Target kami dalam Kongres FIABCI adalah terbukanya wawasan seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung bangunan dan kota ramah lingkungan, serta gaya hidup ramah lingkungan,” kata Pingki Elka Pangestu.

Tak dimungkiri, pengembangan properti ramah lingkungan dengan teknologi yang meringankan beban energi kerap menghabiskan biaya tinggi atau melebihi biaya pembangunan proyek standar.

Sebagai perbandingan, Pingki mencontohkan, biaya pembangunan proyek properti kelas menengah atas sekitar Rp 2 juta per meter persegi. Apabila proyek merujuk pada konsep hijau, dibutuhkan komponen-komponen tambahan guna menekan pemakaian energi sehingga biaya investasi bisa mencapai Rp 5 juta per meter persegi.

Kemahalan investasi awal itu dipicu oleh pemilihan bahan bangunan yang masih mengandalkan komponen bahan dinding seperti semen, beton, kaca, dan perisai penyerap radiasi sinar matahari (filter). Hal serupa juga terjadi pada renovasi bangunan untuk memenuhi standar ramah lingkungan.

”Akibatnya, pengurangan energi yang dihasilkan oleh properti ramah lingkungan tidak sebanding dengan biaya operasional pembangunannya,” ujarnya. Namun, tidak semua proyek ramah lingkungan identik dengan biaya tinggi.

Di Denpasar, Bali, konsep bangunan ramah lingkungan (green property) dikembangkan dengan pemanfaatan bahan baku lokal yang mudah didapat dan efisien biaya, di antaranya penggunaan bambu sebagai bahan bangunan.

Dalam kongres itu, lanjut Pingki, peserta dunia akan disajikan oleh kreasi material ramah lingkungan dari Bali yang telah menembus pasar internasional. Produk-produk itu antara lain lantai, peralatan kamar mandi, hingga pernak-pernik interior rumah.

”Kongres FIABCI sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi pengembang, bagaimana mengatasi masalah pembiayaan tinggi dalam proyek properti ramah lingkungan sehingga pengembang tetap bisa memetik keuntungan,” ujar Bayu Sutomo, Ketua Bidang Seminar Kongres Dunia Ke-61 FIABCI.

Proyek bangunan ramah lingkungan terbukti memberikan imbal balik dalam jangka panjang, misalnya biaya operasional bisa ditekan. Gedung-gedung hijau itu juga cenderung lebih nyaman dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Lebih dari itu, properti hijau akan menyelamatkan dan melindungi dunia dari kerusakan alam karena tidak membebani sumber daya alam.

(KOMPAS Cetak, Sabtu, 1 Mei 2010)
Last Updated on Saturday, 17 July 2010 17:55
 
Proyeksi 2010: Properti Residensial Bangkit Kembali PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 25 January 2010 22:38

ERA kebangkitan properti residensial atau perumahan (landed house) akan datang kembali. Setelah sempat limbung terimbas krisis global hingga kuartal ketiga tahun ini, di tahun 2010, penjualan properti residensial, baik itu rumah, ruko, maupun apartemen akan menggeliat lagi.

"Penjualan rumah masih meningkat. Tahun ini mencapai Rp 30 triliun sedangkan tahun depan menjadi Rp 34 triliun," ramal Panangian Simanungkalit, pengamat properti dari Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI). Sebaliknya, penjualan properti komersial seperti perkantoran, mal, dan pusat perdagangan (trade center) akan melambat atau cenderung stagnan.

Panangian melihat, prospek penjualan perumahan dengan harga di bawah Rp 300 juta di kawasan Jabodetabek akan mencapai 150.000 unit per tahun antara 2010 sampai 2020. Adapun penjualan perumahan dengan harga rata-rata sampai Rp 300 juta per unit mencapai 60.000 unit per tahun selama 10 tahun mendatang.

Jones Lang LaSalle juga melihat prospek yang sama. Data broker, periset, dan penyedia jasa properti ini menunjukkan, sepanjang tahun ini, penjualan kondominium anjlok 30% dan penjualan perumahan menyusut 20%. Namun, di tahun 2010, kondisi ini akan berubah. “Tahun depan, untuk kondominium akan naik 25% dan perumahan 15%, jadi kembali ke kondisi 2008," ujar Director-Head of Strategic Consulting Jones Lang LaSalle, Vivin Harsono.

Direktur PT Ciputra Development Tbk Tulus Santoso dan PR Manager PT Lippo Karawaci Tbk Ria Sorimin lebih optimistis lagi. Keduanya yakin bahwa sektor residensial akan tumbuh lebih dari 25% tahun depan. Alasannya, kondisi perekonomian lebih baik. Selain itu, keunggulan produk mereka juga menjadi faktor lain.
Prospek pasar luar Jawa

Tentu saja, pertumbuhan penduduk juga turut menopang pertumbuhan bisnis properti residensial. Misalnya, kebutuhan rumah di wilayah Jabodetabek sangat besar karena pertumbuhan penduduknya mencapai 8,1 juta jiwa selama tahun 2007-2020. Untuk menampung pertambahan penduduk sebanyak 8,1 juta jiwa itu dibutuhkan rumah setidaknya 2,1 juta unit.

Rengganis Kartomo, pengamat properti Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) memprediksi permintaan residensial kelas menengah dan menengah ke bawah akan tetap paling tinggi.

Namun, menurut Vivien, wilayah Jakarta dan kota-kota besar di Jawa sudah penuh proyek residensial. Karenabta, Vivin menyarankan pengembang berekspansi ke luar Jawa. Sebab, prospek bisnis residensial di luar Jawa tak kalah menarik. Persaingan juga belum sengit.

Ciputra Development merupakan salah satu pengembang yang tengah menyasar pasar residensial di kawasan luar Pulau Jawa. ”Kami sudah survei, terutama di ibukota-ibukota provinsi di luar Jawa, seperti Balikpapan, Samarinda, dan lain-lain,” kata Tulus. (Sumber: Fitri Nur Arifenie/Danto/KONTAN

Last Updated on Monday, 25 January 2010 22:52
 
Konsep "Green Property Plus" Pikat Pembeli PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 21 October 2009 22:51
Strategi jualan rumah sekarang ini tak cukup cuma mengandalkan lokasi, lokasi, dan lokasi. Itu sebabnya, banyak pengembang yang mulai menambahkan embel-embel untuk memikat calon pembeli.

Yang belakangan gencar dipakai perusahaan properti sebagai tema dagangan adalah konsep kawasan berwawasan lingkungan hijau alias green property. Tapi, bagi Paramount Serpong yang baru meluncurkan kluster baru bertajuk il Rosa pada Kamis (10/10) pekan lalu, konsep green property saja belum cukup.

Makanya, pengembang perumahan di kawasan Gading Serpong Tangerang ini memberikan sentuhan anyar pada proyek gres mereka tersebut, yakni hamparan bunga mawar di setiap sudut kluster.

Tidak heran kalau Paramount Serpong memberi nama il Rosa pada kluster terbarunya itu. Dalam bahasa Italia il Rosa berarti mawar. Tentu, bukan tanpa alasan Paramount Serpong memilih mawar sebagai tema jualan mereka.

“Karena mawar itu melambangkan cinta. Harapan kami akan terwujud cinta atau keakraban antar penghuni di il Rosa,” kata Chief Executive Officer (CEO) Paramount Serpong Tanto Kurniawan.

Meski mengusung konsep yang melankolis, bukan berarti Paramount Serpong tak melirik tanaman perdu lain di il Rosa. Untuk menyejukkan hunian, sejumlah pohon besar ditanam, seperti palem. Sebab, Tanto mengatakan, sebanyak 60% lahan di il Rosa yang memiliki total luas 1,9 hektare digunakan untuk taman, fasilitas umum (fasum), dan jalan.

PT Modernland Realty Tbk tak mau kalah. Pengembang Modern Hill yang terletak di daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan, ini juga tak sekadar mengusung konsep green property semata. Lewat kluster barunya yang bernama Green Tranquility, “Pembangunan rumah di sini kami sesuaikan dengan kontur alam yang terasering atau bertingkat-tingkat,” ujar Direktur Pemasaran Modernland Realty Ronny E. Mongkar.

Terpaksa mengundi

Dengan begitu, Green Tranquility mampu menciptakan suasana resor di pinggiran kota Jakarta. Ronny menyebutnya dengan konsep resort home. Jadi, “Kalau habis pulang kantor stres, bisa kembali segar ketika sampai rumah,” kata dia.

Adapun Bogor Nirwana Residence menerapkan konsep green property dengan menanam pepohonan langka yang menjadi ciri khas daerah Bogor. Contoh, Palm Pritchardia, palem ekor tupai, kupu-kupu merah dan pohon sosis. Lalu, batavia, kaliandra, serta kedondong laut.

Chief Marketing Officer (CMO) Bogor Nirwana Residence Jo Eddy Raspati bilang, dengan mempertahankan keaslian wilayah serta menanam pepohonan yang khas, penghuni akan merasa nyaman.

“Kami memanfaatkan kontur tanah dengan menggunakan teknologi up and down slope sehingga seluruhnya memang dibuat alami meski konstruksi rumah menjadi lebih mahal,” ujar dia.

Menurut pengamat properti dari Century 21 Pertiwi Ali Hanafia Lijaya, fenomena green property belum lama bergulir. Persisnya, “Sejak isu pemanasan global, tapi sekarang isu itu sudah mulai dikemas dengan adanya tema-tema,” kata dia.

Dan, cara ini terbukti manjur menggaet pembeli. Tanto mengungkapkan, peminat il Rosa membludak hingga 82 orang. Padahal jumlah rumah yang ditawarkan cuma 72 unit. “Terpaksa kami mengecewakan sebagian calon pembeli karena kami akan melakukan pengundian,” ujar Tanto.

(Sumber: KOMPAS.com - Kontan/Anastasia Lilin Yuliantina - Sabtu, 17 Oktober 2009)

Last Updated on Thursday, 12 November 2009 22:00
 
Hunian Berwawasan Lingkungan Makin Dicari PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 19 August 2009 10:26

Pembeli rumah saat ini banyak memburu proyek hunian berwawasan lingkungan (green property) dengan alasan merosotnya kualitas lingkungan dan dampak negatif yang diakibatkan.

"Masyarakat mulai menyadari dampak serius dari kerusakan alam sepertinya munculnya bagaya banjir," kata Arsitek Lansekap dan Koordinator Peta Hijau Jakarta, Nirwono Joga di Jakarta, Minggu (5/7).

Nirwono menambahkan, dampak negatif yang ditimbulkan kerusakan alam itu beragam mulai dari pemanasan global, laut pasang, banjir, perubahan iklim secara ekstrem yang cenderung meningkat.


Nirwono mengatakan,  Jakarta dan kawasan sekitarnya  rutin dilanda banjir sebagai akibat pembangunan yang mengabaikan lingkungan. Ia khawatir, tanpa dibarengi upaya serius meningkatkan kualitas lingkungan, bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya akan semakin parah.
 


Diakuinya, masih sedikit perumahan yang dikembangkan dengan konsep ramah lingkungan, dan hanya ada beberapa contoh antara lain Bogor Nirwana Residence (BNR), Sentul City, BSD City, Alam Sutera, Kota Araya (Malang).

Developer lebih tertarik membangun perumahan yang laku di pasar tanpa dibebani predikat ramah lingkungan. Padahal, menurut Nirwono, perumahan ramah lingkungan punya prospek cukup cerah.  

Menyusul makin kuatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan berkualitas nilai jual "green property" juga ikut terdongkrak.

Bogor Nirwana Residence, misalnya, kendati pasar perumahan kurang bagus, tetapi penjualan rumah yang dikembangkan Bakrieland itu masih cukup oke. Dalam sebulan BNR membukukan penjualan rata-rata Rp25-30 miliar.

Cluster Harmony 1 dan 2 yang rumahnya dibanderol mulai Rp270 jutaan kini sudah hampir habis. Di cluster Panorama (70 unit) yang dengan harga termurah Rp800 jutaan habis dalam waktu setahun. Sementara di cluster Cendana (150 unit) seharga Rp900 juta - Rp1,5 miliar sudah terjual 80 persen.

Jo Eddy Raspati, Chief Marketing Officer BNR, mengakui, BNR laku di pasar karena konsumen tertarik dengan konsep green property dan lokasinya yang strategis. BNR berada di dalam kota Bogor, 10 menit dari pintu tol Bogor.

Area yang dibangun hanya 40 persen, selebihnya untuk ruang terbuka hijau (RTH).  Areanya yang berkontur juga dibiarkan apa adanya dengan view Gunung Salak. "Jadi, kami tidak hanya menjual rumah tetapi juga lingkungan," katanya.

Cluster-cluster berkonsep ramah lingkungan (eco friendly) di Bintaro Jaya, BSD City, Grand Wisata, dan Summarecon Serpong juga direspon pasar cukup bagus. Di  cluster Kebayoran View misalnya, termasuk yang paling  laku di Bintaro Jaya. Padahal harga rumahnya Rp850 jutaan - Rp1,5 miliar per unit. Demikian juga cluster Primavera-Foresta, BSD City dan cluster Celebration Town, Grand Wisata, Bekasi.

Josidha Kusuma GM Marketing Grand Wisata, mengatakan, selain lingkungan konsumen umumnya tertarik karena kelengkapan fasilitas. Misalnya di dalam perumahan tersedia pusat belanja, sekolah, pasar, dsb.

"Orang tidak mau repot lagi, maunya semua kebutuhan dapat terpenuhi di dalam perumahan," katanya. Faktor inilah yang mendorong Bakrieland membangun sejumlah fasilitas di BNR. Kini di dalam perumahan seluas 1.200 ha itu terdapat mal, life style center (Orcdard Walk Arcade), The Jungle, dan sebentar lagi akan beroperasi Aston Bogor Hotel & Resort.

"Kami juga akan menyediakan golf, sekolah, sport club, apartemen, dan rumah sakit," ujar Jo Eddy.

Melihat tren ini sejumlah developer di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) kini mulai berebut menawarkan hunian ramah lingkungan. Ada belasan perumahan dan tidak sedikit dari mereka yang memakai label green.

Sebutlah The Green Andara Lebak Bulus (20 ha), Cinere Green Hill, Cimanggis Green Residence, Green Park (Bekasi), Cilandak Green Residence, Green Mansion, Transquality, Serpong Green Park, Bintaro Green Hill, dll.

Perumahan-perumahan tersebut belum sepenuhnya menerapkan konsep green property. Sebagian besar baru menonjolkan area hijau. Masalah pengelolaan sampah, air, dan  efisiensi energi belum jadi prioritas.

Tetapi, menurut Nirwono, tidak jadi masalah karena green property memang butuh waktu dan komitmen developer. Ia tidak menampik harga rumah di perumahan ramah lingkungan lebih mahal sehingga segmennya lebih tipis.

Tetapi menurutnya, dalam jangka panjang konsumen sangat diuntungkan. "Selain perumahannya nyaman dan lingkungannya lebih sehat, nilai propertinya juga lebih tinggi," katanya.

 

Sumber: Kompas & Antara

Last Updated on Wednesday, 19 August 2009 13:51
 
Kepercayaan adalah Kunci PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 08 June 2009 11:59

Kepercayaan kepada pengembang properti terutama dalam serah terima produk tepat waktu menjadi kunci keberhasilan penjualan apalagi di tengah kompetisi ketat pada saat krisis ekonomi.
"Pembeli produk properti biasanya melihat dulu siapa yang menjadi pengembang," kata Direktur PT.Bakrieland Development Tbk, Marudi Surachman di Jakarta, Rabu (11/3), dalam seminar Smart Investment in Financial Crisis yang diselenggarakan PT.Bakrieland Development Tbk. Menurutnya, pengalaman Bakrieland dengan kepercayaan seperti itu tinggal menyiapkan strategi penjualan mulai dari ukuran produk serta harga sehingga meskipun krisis tetap akan dapat diserap pasar dengan baik.

Marudi mengatakan, pengembang juga harus pintar-pintar mengemas produk terutama yang selama ini menjadi unggulan, karena lokasinya strategis seperti proyek Rasuna Epicentrum.

Last Updated on Sunday, 21 June 2009 07:42
Read more...
 



Banner
Banner

Pencarian via Google

Who's Online

We have 3 guests online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini265
mod_vvisit_counterKemarin321
mod_vvisit_counterMinggu ini1590
mod_vvisit_counterBulan ini7578
mod_vvisit_counterTotal101451

Facebook FanBox

Customer Service

My Alexa Data

presented by camp26